
Selama setengah semester mempelajari Filsafat Islam, pandangan saya tentang ilmu dan agama berubah total. Awalnya saya mengira keduanya berbeda dunia: agama hanya soal ibadah dan akhlak, sementara ilmu pengetahuan berkaitan dengan logika, sains, dan hal-hal yang bisa dibuktikan. Namun ternyata, Islam justru menempatkan akal dan ilmu pada posisi yang sangat tinggi.
Sejak wahyu pertama turun — “Iqra” (bacalah) — Allah sudah menegaskan pentingnya ilmu. Perintah itu bukan hanya untuk membaca tulisan, tapi juga memahami, meneliti, dan mencari kebenaran. Islam memandang akal sebagai anugerah agar manusia bisa mengenal Tuhannya melalui ilmu.
Lewat pelajaran Filsafat Islam, saya mengenal tokoh-tokoh besar seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Ghazali. Mereka bukan hanya ahli agama, tapi juga ilmuwan besar yang berhasil memadukan iman dan rasio. Dari mereka, saya belajar bahwa beragama bukan berarti berhenti berpikir kritis, tapi justru berpikir lebih bijak dan mendalam.
Pelajaran ini membuat cara pandang saya berubah. Saya mulai terbiasa melihat sesuatu dari berbagai sisi, tidak cepat menilai, dan mencoba memahami alasan di balik perbedaan. Saya sadar, Islam bukan agama yang mengekang akal, tetapi agama yang membimbing akal agar menemukan kebenaran sejati.
Ke depan, saya ingin terus menyeimbangkan antara ilmu dan iman. Karena saya percaya, ilmu tanpa agama bisa membuat manusia kehilangan arah, sementara agama tanpa pemahaman logika bisa membuat kita sempit pandangan. Keduanya harus berjalan berdampingan — seperti dua sayap yang mengangkat manusia menuju kebijaksanaan.

Bagi saya, belajar Filsafat Islam bukan sekadar memahami teori, tapi belajar cara berpikir, beriman, dan hidup seimbang. Dengan ilmu, kita mengenal keagungan ciptaan Allah dengan agama, kita tahu bagaimana memanfaatkannya dengan benar. Dan pada akhirnya, ilmu yang berlandaskan imanlah yang akan membawa manfaat — bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk sesama.